Tembok Tipis Antara Ikhlas dan Bodo Amat



Di balik ribuan doa yang belum juga berbalas, yang aku tahu Tuhan memang Maha Bercanda.


Kamu pernah mati rasa? Hari ini aku merasakannya. Entah Tuhan menjadi humoris atau Dia hanya menyediakan jalan yang tepat.

Tepat kemarin, 1 Desember 2020, aku mengecup sajadahku dan melontarkan doa untuk lebih dikuatkan dalam menjalani rintangan apapun. Biarlah masalah berlipat, atau tingkat kesulitan menukik tajam ke atas, aku hanya ingin diriku lebih kuat di setiap detiknya.

Benar saja, kudengar hal tak mengenakkan. "Panas" rasanya kepalaku ditambah dengan situasi yang entah kenapa terasa menghimpit.

Di saat seperti itu biasanya aku meringkuk dan menangis. Meredakan emosi yang berkecamuk hingga akhirnya kembali menaikkan dagu untuk menghadapi dunia.

Namun kali ini, ceritanya lain.

Mendengar berita tak menyenangkan atau masalah yang tiba-tiba mampir, hatiku diam saja. Ia bergeming. Kepalaku seakan langsung bekerja mencari jalan keluar.

Tak ada sedikit pun rasa sedih yang mampir. Bahkan rasa marah pun absen kali ini.

Aku bertanya pada diriku sendiri yang hingga detik ini belum menemukan jawabannya.

Apakah aku sudah di tahap ikhlas? Atau aku sudah menjadi orang yang bodo amat terhadap takdir yang bersilang dengan kesialan? Entah.

Memang, konsep "enjoy it while it last" sudah menjadi hal yang aku jalani di awal tahun ini. Pun tak bisa dipungkiri bahwa hati ini merasa berat ketika baru memulainya. Namun setelah terbiasa, aku makin tahu arti bersyukur.

Aku jadi teringat sebuah buku yang ketika sudah diterjemahkan menjadi "Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat". Apakah aku menuju ke sana? Atau aku kini sudah mudah saja mengikhlaskan?

Semakin hari, semakin tipis perbedaan bodo amat dan keikhlaskan menurut sudut pandangku.



Enjoy it while it last..

Motto itu sedang kujalani dengan khusyuk. Living in the moment pun bisa menjadi salah satu jalan agar aku gagal jatuh dalam pelukan kekecewaan.

Aku ingin menikmati setiap detik semaksimal mungkin, agar jika ada yang harus pergi, aku tak ada penyesalan. Aku hanya ingin menyesap kenangan manis dari sisa-sisa memori yang ada.

Jadi, aku menikmati setiap detiknya sebelum berakhir.

Nikmati saja Flori. Hirup aroma bahagia atau sedihmu dalam-dalam. Karena kamu takkan menghirup aroma yang sama. Karena dalam hidup, aromanya akan semakin pekat. Entah berakhir menyedihkan atau membahagiakan, sesap saja.

Selama ini, aku selalu mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Toh, aku sudah siap agar badanku tak remuk total.

Ketika aku bahagia, aku pun mensyukuri setiap detiknya. Karena bahagia tak akan singgah terlalu lama. Namun, tak kubiarkan diriku terlena. Aku tak ingin kembali jatuh ke pelukan kekecewaan.

Bahagialah pada detik itu. Sedihlah pada detik itu.

Karena seperti yang tertulis di Matius 6:34, esok punya kesusahannya sendiri. Aku percaya, esok pun punya bahagianya sendiri.

Kubiarkan diriku bahagia detik ini, untuk kembali bahagia di esok hari dengan sumber yang berbeda. Hal itu pun berlaku untuk kesedihan.


Comments

Popular Posts