Hello from the other side, outsiders!

Well, hello, you.
Sebenarnya gue sudah pernah nulis di blog sebelumnya. Tapi sayang, lupa password dan e-mail yang sepertinya sudah menjadi penyakit akut kembali menyerang.

And actually, it's been years semenjak terakhir kali gue nge-blog. Ya, itu juga tentang cerpen bersambung yang akhirnya selesai juga setelah berbulan-bulan lamanya. Hehe..

Anyways, gue sebenarnya nggak tahu juga mau menulis apa untuk postingan pertama ini. Rasanya curhat saja mungkin cukup, mungkin? Well, i'm not sure. :p

Senang rasanya bisa kembali nulis untuk diri sendiri. Pekerjaan gue yang sekarang mengharuskan untuk menulis memang. Tapi, rasanya beda aja. Ya, sesuatu yang wajib dilakukan dengan yang harus memang selalu punya dampak yang beda sih.

Walau lompat jauh banget, gue mau flashback sedikit tentang kehidupan di akhir kuliah sampai saat ini. But i promise i'll make it quick. Well, i don't know, maybe not? xP

Kalau dipikir ulang, gue yang nggak pernah punya planning pasti ke depan ini masih merasa amazed bisa menyelesaikan skripsi -yang katanya musuh semua mahasiswa- di waktu yang tepat dan relatif cepat. Gue akui sih kalau sering underestimate ke diri sendiri. Tapi kayaknya, rasa rendah diri itu juga perlu sih untuk tahu di mana posisi kita.

Awalnya gue merasa (sama sekali) nggak percaya diri untuk ngambil tugas akhir. Tapi, siap atau nggak, gue harus kudu, tetap, harus, ngejalanin. Ya karena memang cuma itu sih matakuliah yang tersisa.

Berat awalnya. Gue yang susah berkomitmen dalam hidup ini masih kepingin main-main tanpa ada kewajiban yang harus gue tanggung. Menurut gue, kuliah dengan segala lelucon matakuliahnya ini lucu, gue dikasih tanggung jawab sedemikian rupa, yang kalau diingkari nggak akan dapat hukuman yang 'menampar' tapi bikin 'mati'. Kurang menyiksa apa lagi kalau lo harus buang duit dan umur?

Okay, balik ke skripsi. Gue merasa nggak atau sama sekali belum merasa ingin komit untuk bikin tugas akhir. Rasanya masih nggak ada beban tanggung jawab meski nyawa gue ada di ujung tombak. (gagal pas sidang, siapa yang mau sih?)

Well, i did it anyway. terima kasih untuk C.S Pierce yang sudah membantu saya menuliskan segala macam kasus tentang feminisme itu.

Setelah menyelesaikan masalah perkuliahan, sebagai manusia urban yang butuh uang untuk menyambung hidup, pekerjaan adalah surga dunia yang menjadi tujuan. Syukurnya, gue nggak lama jadi pengangguran dan akhirnya bisa kerja sesuai dengan passion gue.

Dari dalu, gue menyukai hal-hal di luar ruangan. Entah cuma jalan-jalan kecil, berpelesir ke daerah yang belum pernah gue kunjungi, atau berburu pantai dan akhirnya menikmati alunan lagu paling merdu sedunia sambil melihat matahari terbenam. Ombak.

Jadi jurnalis pasti jadi salah satu pekerjaan yang oke kalau lo punya hobi kayak gue. Tapi sayang, walaupun bekerja di bidang yang disuka, gue tetap diharuskan bekerja dalam ruangan. But, i enjoy it anyway. Gue masih bisa tetap nulis. Setiap pulang kerja, otak nggak akan kosong karena akan ada dan selalu ada hal baru yang bisa gue bawa pulang.

Well, kalau lo sendiri masih terjebak dalam ketidaknyamanan, atau sudah beranjak mengejar apa yang diinginkan?

Comments

Popular Posts