Aku tunggu kamu, ya..
"Yours is the only opinion i'll trust. The only point of view that holds even the faintest interest. I find my diversions, as i always do. But the days are long in this gray place." -J
Itu adalah petikan dari surat Jamie Moriarty untuk Sherlock Holmes dalam serial Elementary. Aku menyukai butiran katanya.
Kamu memang akan selalu menjadi orang yang aku percaya. Bersamamu aku tahu bahwa cahaya matahari bisa berbeda warna. Duduk di sampingmu aku tahu angin menyanyikan musik yang berbeda pula.
Terima kasih sudah hadir. Terima kasih juga sudah pergi. Ternyata mengetahui bahwa kamu ada dan sehat saja tidak cukup bagiku. Aku ingin lebih.
Seperti yang kamu tahu, lebih baik aku menyingkir saja. Kamu bilang tak menyukai karena aku terlalu memberikan banyak perhatian. Well, menahan diri adalah hal yang aku pilih. Bahkan, aku memilih untuk tidak melihatmu.
I didn't stop loving you. I just stopped telling you, texting you, and calling you. I know that you feel uncomfortable when i give you so much attention.
Iya, berhenti mengirimi pesan, menelpon, dan mengatakan aku mencintaimu tak berarti aku benar-benar berhenti. Aku hanya menahan diri saja.
Pertahanan itu runtuh sudah setelah kamu mengirimi pesan pagi ini, 12 Oktober tepat pada 07.10.
Luluh lantah sudah hati yang aku kira lebih kuat dari baja. Hanya satu pesan ajakan pertemuan. Dari baja bisa menjadi margarin yang dipanaskan. Meleleh begitu saja.
Bahagia, sedih, bersemangat, ragu, sedikit sesal bercampur menjadi satu. Entah apa yang harus aku gambarkan. Tak tentu, pastinya.
Tapi aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin tahu apakah semua akan terasa canggung hingga akhir, atau malah ini akan menjadi awal yang bahagia. Aku menunggu kamu.
Itu adalah petikan dari surat Jamie Moriarty untuk Sherlock Holmes dalam serial Elementary. Aku menyukai butiran katanya.
Kamu memang akan selalu menjadi orang yang aku percaya. Bersamamu aku tahu bahwa cahaya matahari bisa berbeda warna. Duduk di sampingmu aku tahu angin menyanyikan musik yang berbeda pula.
Terima kasih sudah hadir. Terima kasih juga sudah pergi. Ternyata mengetahui bahwa kamu ada dan sehat saja tidak cukup bagiku. Aku ingin lebih.
Seperti yang kamu tahu, lebih baik aku menyingkir saja. Kamu bilang tak menyukai karena aku terlalu memberikan banyak perhatian. Well, menahan diri adalah hal yang aku pilih. Bahkan, aku memilih untuk tidak melihatmu.
I didn't stop loving you. I just stopped telling you, texting you, and calling you. I know that you feel uncomfortable when i give you so much attention.
Iya, berhenti mengirimi pesan, menelpon, dan mengatakan aku mencintaimu tak berarti aku benar-benar berhenti. Aku hanya menahan diri saja.
Pertahanan itu runtuh sudah setelah kamu mengirimi pesan pagi ini, 12 Oktober tepat pada 07.10.
"Aku akan ke Jakarta untuk berganti pesawat. Kalau kamu punya waktu, ketemu untuk makan malam, yuk!"
Luluh lantah sudah hati yang aku kira lebih kuat dari baja. Hanya satu pesan ajakan pertemuan. Dari baja bisa menjadi margarin yang dipanaskan. Meleleh begitu saja.
Bahagia, sedih, bersemangat, ragu, sedikit sesal bercampur menjadi satu. Entah apa yang harus aku gambarkan. Tak tentu, pastinya.
Tapi aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin tahu apakah semua akan terasa canggung hingga akhir, atau malah ini akan menjadi awal yang bahagia. Aku menunggu kamu.
Comments
Post a Comment