Sudahkah Kamu Mencintai Kamu?

Ternyata butuh beberapa waktu untuk akhirnya bisa menumpahkan pengalaman lewat tulisan. Kali ini, aku akan mengisahkan caraku memutuskan hubungan dengan insecurity.

Sampai sekarang, aku tidak tahu apakah rasa akumulatif insecurity atau anxiety yang menyebabkan tingkat insecurity-ku meningkat.

Untuk kamu yang belum tahu, aku memang terdiagnosa anxiety. Please be noted that it's not a self-diagnosed.

Jika boleh berkata jujur, aku tentu tidak bisa menyingkirkan rasa insecure ini sepenuhnya hingga detik ini. Namun aku punya rahasia yang setidaknya mampu untuk menguangi rasa cemas saat krisis kepercayaan diri hadir.

Mungkin terdengar cliche, tapi hal terpenting adalah "know my worth". Aku mencoba kembali berkenalan dengan diriku. Mulai bicara dengannya dan mengobrol lebih dalam di hampir setiap malam.



"Apa aku ingin berteman dengan seseorang yang miliki sifat, sikap dan cara berpikir seperti aku?" adalah pertanyaan yang selalu aku tanamkan. Mulai dari titik itu aku mulai berkenalan dengan diriku.

Seperti yang sudah aku ceritakan dalam kisah-kisah sebelumnya, aku sempat berada dalam toxic relationship. Di sana rasa insecure seakan menggebu-gebu. Rasanya tak mungkin satu hari dilalui tanpa tangisan.

Setelah berhasil keluar dari belenggu, tentu saja insecurity-ku tak lantas hilang. Semua berproses dan bisa dibilang membutuhkan waktu yang sangat banyak. Bahkan saat ini, aku masih membutuhkan waktu untuk benar-benar berdamai.

Meski demikian, semuanya kini lebih mudah untuk diatasi. Saat tahu seberapa berharga dirimu, kamu akan tahu kapan harus berjuang atau memilih untuk meninggalkan sebuah situasi.


Aku sudah tak ingin berada dalam situasi di mana aku mempertanyakan "apa yang kurang dariku?" setiap malamnya hanya karena pasanganku berselingkuh atau bahkan menganggapku tidak lagi menarik.

Tepatnya, aku menghindari rasa takut. Aku menghindari hal yang membuatku membenci dan mempertanyakan diri sendiri. Aku percaya bahwa hidup memang tentang 2 pilihan, pergi atau tinggal.

Kamu bisa memilih untuk tinggal atau bertahan dalam sebuah hubungan. Kamu juga lebih mampu untuk mengatasi emosi yang bisa saja meledak ketika berada alam sebuah situasi yang tak diinginkan.

Untuk saat ini, aku masih dalam sebuah fase "lebih baik meninggalkan daripada terjebak dan tak bisa mengatasinya dengan baik. Aku tak ingin pada akhirnya menyakiti seseorang karena reaksiku yang mungkin saja berlebihan dan menggebu-gebu."

Aku ingat pernah meninggalkan sebuah percakapan karena rasanya aku bisa meledak jika meneruskannya. Bukan masalah besar memang, namun rasanya aku tak ingin keputusanku diganggu gugat atau bahkan didebat.


Mungkin bisa disebut saat itu aku lari dari masalah. Namun dampaknya sangat baik. Aku bisa kembali memikirkan masalah dan kemudian mendiskusikan dengan lawan bicaraku di waktu yang lain. Beruntung dia memahami.

Kini aku masih berkenalan dengan diriku sendiri. Memastikan bahwa rasa insecure itu bisa pergi secepatnya, yang tentunya cepat di sini pun miliki proses yang panjang.

Aku ingin mengenal diriku sendiri lebih dalam. Membuatnya menerima kekurangan dan menjadi unggul akan kelebihannya.

Comments

Popular Posts