Expect None?


Bulan Februari 2019 aku mulai menjejak pengalaman baru. Menuruti kata hati tanpa memikirkan akibatnya nanti. Langsung terjun dari tepi jurang, dan beruntung saja ada jaring yang mengangkap sebelum aku sampai di dasar.

"Kurang satu jengkal dari hidung," ujarku pada diri sendiri, puas menertawakan Malaikat Izrail karena aku gagal hilang nyawa hari ini.

Tapi entahlah, hatiku yang mati rasa usai kejadian itu. Tak ada sakit, tak ada bahagia, tak ada kecewa, tidak ada senyum tanpa paksa.

Dari sana aku memulai hari tanpa ekspektasi. Semua berjalan begitu saja.

"Manusia ladang kecewa" adalah mantra yang kurapal berulang kali. Kini sudah kuingat di luar kepala setiap menemukan hal yang baru.

Aku ingin menekan kekecewaan setipis-tipisnya karena diriku sendirilah yang bertanggung jawab jika rasa itu hadir.

"Salah sendiri kenapa kamu berekspektasi?", "loh, bukannya yang berharap itu kamu?" dan pertanyaan semacam ini sering kutujukkan pada diriku sendiri.

Aku pernah bicarakan hal ini pada mantan pacarku. Aku terkejut ketika ia menyatakan kekecewaan lantaran aku seperti tak sayang sepenuhnya.

Ia menyatakan kesedihannya dan mempertanyakan apakah aku benar-benar tak bisa mempercayakan kebahagiaanku padanya. Aku tertegun dan kemudian memberikan senyum dengan arti yang mengambang.

Aku mengerti bahwa dia menginginkanku seutuhnya, bukan seperlunya. Kuhapuskan mantraku sedikit demi sedikit dan menemukan akhir yang tentu saja mengecewakan.

"Manusia," pikirku.

Entah mengapa, rasanya senang saja jika aku menemukan orang bisa kuajak bicara dengan beragam topik. Namun, di titik yang sama aku pun merasa takut untuk kehilangan perasaan bahagia.

Mereka bilang cinta datang bersamaan dengan kecewa. Rasanya aku terlalu pengecut untuk kembali merengkuh rasa kecewa.

Comments

Popular Posts