I Am Not Sorry for Being So Selfish


Dalam kuda besi panjang bernama DAMRI yang berangkat dari Terminal Pasar Minggu aku menghela napas panjang. Ada sedikit rasa cemas yang selalu berhasil dikalahkan oleh penasaran. Perasaan hilang timbul yang terabaikan namun selalu ada.

Dalam waktu beberapa jam aku akan meninggalkan Jakarta menuju tempat yang sama sekali belum pernah kubaui sebelumnya. Aku tidak tahu akankah ini menjadi pengalaman yang menyenangkan, atau berbuah kekecewaan.

Aku tahu pasti bahwa kecewa adalah sebuah hasil yang hampir tak masuk hitungan. Kemungkinanya mungkin 0,00001% saja. Kendati demikian, sebisa mungkin kujaga mood agar anxiety tak kembali.

Dalam blog ini aku tidak akan menceritakan kisah kala aku menapakan kaki di Singapura dan juga kota kecil yang kini tengah megap-megap hampir mati. Aku ingin berkisah mengenai keegoisanku.

Dalam perjalanan kali ini, aku mengaku sangat egois. Aku merasakan semuanya. Kuinginkan segalanya wajib berada dalam kendaliku seakan tak peduli ada orang lain yang bermurah hati. Kakiku tetap melangkah dengan mata yang tak bisa diam melihat sekeliling.

Menjejak di Singapura, aku minta maaf karena terlalu egois. Bisa dibilang aku adalah teman membosankan untuk sekadar diajak jalan.

Entahlah.. Aku lebih suka berkeliling sendirian. Berjalan jauh tanpa bicara, tanpa harus memikirkan kebutuhan teman seperjalanan. Aku hanya ingin melihat tempat baru dan menghapal setiap rutenya.

Kamu tau kalau setiap kota memiliki bau yang berbeda? Aku ingin merekam semuanya di kepala. Tanpa perlu bicara mengenai "harus makan apa?" karena akan sangat merusak suasana.

Juga, aku senang bicara dengan orang-orang asing yang menetap di sana. Mengenal dunia dari cara pandang yang berbeda. Bahkan rasa air putih pun bisa tak sama. Aku suka. Rasanya ingin kuselami semuanya.

Aku bisa jadi orang paling membosankan sedunia jika tengah asyik dengan pikiran. Untuknya, aku minta maaf. Tapi aku mungkin tidak akan berubah.

Comments

Popular Posts