Merindukan Privasi di Tengah Pandemi




Hey there, how you've been?

Aku nggak tau harus jawab "baik-baik saja" atau "syukurnya masih waras" jika seseorang bertanya mengenai kabar. Semenjak Jakarta melakukan PSBB, yang artinya sudah 2 bulan, aku benar-benar tidak keluar rumah.

Aku sudah melewati fase nyaman bermalas-malasan di rumah, lalu berganti menjadi rindu berpelukan dengan orang terdekat, kemudian kangen "bermaksiat" dengan para sejawat, hingga sekarang bosan dan lalu berdamai dengan kebosanan. Pasrah saja.

Ada rasa takut dalam hati yang rasanya mulai membesar. Berdiam diri di rumah hingga waktu yang belum ditentukan seakan makanan penuh protein yang membuat rasa takut itu tumbuh subur dengan cepat.

Entah kenapa sekarang aku lebih menikmati kesendirian. Tak banyak bersosialisasi membuatku merasa nyaman. Namun ada hal yang kutahu ini akan menjadi mimpi buruk di waktu mendatang. Bukankah hubungan dengan manusia lain harus dirawat? Sementara saat ini aku berada dalam titik paling egois.

Aku bukan orang yang terbuka mengenai segala sesuatu. Aku tak ingin orang-orang bisa melihat semua hal yang kulakukan tiap detiknya. Sementara, proses self-isolation ini memberikan kesempatan banyak orang untuk terus memperhatikanku.

Bukan berarti aku tak menyayangi keluargaku, tapi nampaknya, aku merindukan privasi. Memang aku lebih suka melakukan segala sesuatunya sendiri.

Aku cuma bisa berharap pandemi ini segera berakhir.

Comments

Popular Posts