Lebih Baik Tutup Mata dan Telinga daripada Emosi Membara
Jujur saja aku nervous menulis blog kali ini. Karena sepertinya aku akan membuka diri pada dunia, bahwa sebenarnya aku ini terlalu ajeg dan tidak pula bisa dibilang open-minded.
Tulisan ini aku buat saat aku tengah nge-teh bersama Meira. Dalam sebuah obrolan, aku berkata "lebih baik gue nggak liat dan denger apapun soal dia deh, daripada malah tambah sebel."
Kuakui, bahwa aku sudah taubat dari drama. Dulu aku seperti bersemangat sekali mendengar hal private milik orang lain yang sama sekali tak ada urusannya denganku. Kini aku benar-benar membatasi diri karena tak ingin membuang sia-sia energi.
Kami memiliki satu orang yang tak ingin kami bicarakan. Tapi entah kenapa, orang itu selalu muncul dengan apapun tingkahnya. Awalnya, aku dan Meira sama sekali tak saling tahu, sampai akhirnya aku mengumpat tanpa sengaja dan dilalahnya gayung pun bersambut.
Kemudian kami memutuskan untuk tak lagi memasukan orang itu dalam topik obrolan apapun. Bahkan aku sampai pada tahap tak ingin melihat Instagram Stories miliknya.
Entahlah, mungkin bagiku dia terlalu berlebihan menceritakan kehidupan pribadinya. Ditambah dengan kisahnya yang menurutku "apaan dah lu?".
Karena kami adalah netizen budiman, kami pun memutuskan untuk lebih baik tidak mendengar dan melihat apapun yang dilakukannya dari pada emosi semakin membara. Lagipula, apa pula hak kami menghujat ia yang bahagia dengan caranya?
Di sini aku sadar penuh, bahwa aku punya banyak cara untuk membuat diriku bahagia. Untuk apa membicarakan orang lain yang malah membuat mood acak-acakan karena tingkahnya (yang tentu saja menurutku/menurut kami) tidak jelas.
Hal ini sebenarnya juga aku terapkan pada keadaan saat ini. Buruknya, aku malah sudah tak ingin lagi mencari tahu apapun menyoal pandemi. Yang ada malah bikin emosi dan gerutu sendiri.
Tapi tetap ada saja hal yang membuat sebal dan memuakkan. Peraturan memasukan orang ke peti karena tidak memakai masker, misalnya. Entah kenapa aku berpikir sepertinya pemerintah memang sedang memberlakukan genosida.
Kembali ke topik awal. Aku sadar betul bahwa aku yang bertanggungjawab atas kebahagiaanku sendiri. Jika ada orang lain yang membuatku sebal, hiraukan saya. Toh orang tersebut tak membuat hidupku rugi.
Walau kadang rasa kesal masih timbul karena sesekali takdir kami bersilang, setidaknya aku tak tercebur dalam limbah drama. Apalagi di masa sulit mencapai ketenangan hati ini, menyulut emosi semudah mengedipkan mata alias mudah sekali.
Solusiku saat ini; menghindar. Aku tahu tak bisa melakukan ini selamanya. Namun, jika yang terbaik saat ini adalah menghindar, sepertinya akan tetap kulakukan.

Comments
Post a Comment