Belajar Memperbaiki Diri Karena Pandemi
Terima kasih teman-teman yang sudah memberikan dukungan moral hingga gue bisa ada di titik ini.
Ada masa saat gue merasa jadi manusia paling nggak berguna di dunia. Dulu gue punya banyak pertanyaan "kenapa?" di kepala. Kenapa semua orang marah ke gue? Apa yang gue lakukan sampai bikin mereka marah? Kenapa hal yang gue lakukan semuanya salah?
Sampai saatnya gue tau, kalau ternyata kesalahan bukan ada di gue, tapi di mereka. Mereka yang menumpahkan segala bentuk emosinya ke gue, yang saat itu hanya bisa diam dan mendengarkan. Mereka yang meluapkan frustasi tak terbendungnya dan melemparkannya ke gue karena saat itu gue nggak ada kuasa untuk melawan.
Bahkan hingga detik ini, gue terkadang masih belum bisa memaafkan. Hingga detik ini, terkadang gue masih mempertanyakan apakah setiap keputusan dan langkah yang gue lakukan sudah benar? Karena yang gue takutkan adalah mendapatkan kemarahan itu lagi. Entah dari siapa kali ini.
Mungkin kalian pernah frustasi akan suatu hal dan kemudian secara tidak sengaja melemparkannya pada orang lain. Jika satu atau dua kali terjadi, mungkin masih bisa termaafkan. Namun ketika orang itu menerimanya berkali-kali setiap hari, percayalah, ia takkan menjadi manusia yang sama lagi.
Jujur saja, gue punya masalah dengan kepercayaan diri. Gue nggak suka dilihat banyak orang, atau bahkan tampil di depan orang banyak. Alasannya sederhana, gue gak ingin mendengarkan pendapat yang mungkin bisa menyakitkan hati.
Bahkan mungkin dengan gue hadir di sana tanpa mengucap sepatah kata saja sudah membuat satu atau dua orang tidak suka. Nggak, ini bukan soal demam panggung. Gue memang bukan orang yang bisa menerima hujatan yang bersifat pribadi. Tentu saja berbeda soal ketika ada yang ingin menyampaikan kritiknya.
Sampai saat ini, gue terkadang masih merasakan frustasinya. Menangkap semua luapan emosi orang lain, yang tidak ada hubungannya dengan gue, bikin gue merasa sesak. Meragukan diri sendiri sudah menjadi makanan sehari-hari.
Sering rasanya gue menceritakan perkara ini pada beberapa teman dekat. Meski tak segamblang seperti yang gue lakukan saat ini. Tapi beberapa dari mereka punya sudut pandang yang menarik.
Sama halnya dengan yang gue tuliskan di IG Story saat merayakan #MentalHealthDay tempo hari. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan trauma di diri sendiri, bisa dengan ibadah, meditasi, konseling, sampai minum obat agar kesehatan mental bisa kembali baik.
Gue sendiri memilih beberapa jalan untuk menyelesaikan permasalahan dalam diri gue. Salah satunya adalah bercerita ke orang-orang terdekat. Entah ini malah membuat ruwet atau malah melegakan. Tapi banyak teman yang berkata bahwa aku harus hidup untuk hari ini.
Gue pun meng-amin-kan. Bagiku, kita harus memberikan hal yang terbaik setiap harinya. Hingga pada akhirnya tak ada penyesalan.
Dalam usaha menutup luka, beberapa waktu belakang gue mencoba untuk belajar ikhlas. Sulit memang tapi itulah yang benar-benar harus dipelajari.
Pada akhir Juni lalu gue sudah nggak bekerja lagi di NOW! Jakarta. Setelah itu, rasanya sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan yang baru. Berbagai interview sudah gue lalui dan dinyatakan lulus, namun pada akhirnya, tidak ada berita lanjutan. Entah karena PSBB, atau entah karena memang ada kandidat yang lebih baik.
Beberapa kali menerima perlakuan seperti itu, gue pun mencoba untuk ikhlas saja. Karena toh nggak ada yang bisa dilakukan lagi. Di saat itu, gue hanya mencoba untuk berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kemampuan yang ada. Hingga akhirnya, gue diterima diperusahaan yang tempat gue bekerja saat ini.
3 bulan tak bekerja ditambah 4 bulan tidak ada penghasilan yang tetap tentu bukan hal yang gampang. Tapi ternyata mencoba ikhlas memang jawaban yang selama ini gue cari.
Seorang kenalan pun mengingatkan gue untuk tidak memusingkan hal yang tak perlu dipusingkan. Urusan menerima gue bekerja itu bagian dari kewajiban perusahaan. Tugas gue hanya memikirkan cara untuk melewati wawancara dengan baik. Untuk hasilnya? Sekali lagi, tak perlu dipikirkan.
Dan sekali lagi, itu hal yang gue perlukan. Ikhlas benar-benar mengurangi beban pikiran.
Saat ini gue berpikir, andai keikhlasan yang bisa gue lakukan saat melamar pekerjaan bisa semudah untuk ikhlas memaafkan masa lalu. Tapi ternyata nggak semudah itu. Yang gue sadari saat ini lukanya masih menganga. Bahkan terlalu lebar untuk bisa disebut mulai mengering.
Comments
Post a Comment