Turunkan Ekspektasi
Jika boleh jujur, masih saja aku merasa bimbang. Sudah kukatakan berkali-kali mengenai konsepsi rasa nyaman yang membahayakan, namun tak bisa dipungkiri bahwa aku merindu.
"Sudahlah, ikhlaskan saja. Bukankah semuanya lebih baik sekarang?" ujarku pada pantulan diriku di cermin.
Memang lebih baik semua. Namun hatiku kadang merasa sesak mengingat banyak hal yang aku lepaskan. Rasa kehilangan memang paling pahit bila dicecap.
Aku berterimakasih pada hatiku yang ternyata bisa setegar ini. Sudah patah, remuk hinga ringkih, ia masih menjalankan tugasnya dengan baik. Aku tak ingin kembali mati rasa.
Melepaskan apa yang erat di hati bisa membuatnya remuk, namun bisa diartikan merelakan beban. Aku pernah dengar sebuah pepatah, "Jatuh cinta sama dengan memberikan kepercayaan pada orang lain untuk membuat hati bahagia atau malah mematahkannya,".
Sulit rasanya menaruh harap untuk dibahagiakan. Ada baiknya aku cukup menurunkan segala ekspektasiku padanya. Bukankah yang menyakitkan adalah menggantungkan kebahagiaan pada orang lain dan kemudian jatuh sendiri di antara ekspektasi?
Untuk kali ini, akan kujalani secara perlahan dan meminimalisir harapan. Biarkan saja obrolan mengalir membawa pergi kami pada perjalanan atau malah persimpangan.
Comments
Post a Comment