Menolak Mengikuti Tren Kekinian

Bola menggelinding bernama zaman kini berputar dengan cepat. Aku melihat banyak manusia yang berjalan memandang punggung zaman. Seperti tanpa memikirkan hal lain, mereka hanya berjalan dan bahkan berlari untuk tetap dekat menatap bola.

Seakan menjaga jarak, aku memerhatikan. Aku bukan orang yang mengerti pola pikir bola hingga dengan mudahnya memprediksi kemana dia akan berkelok. Bagiku tidak masalah. Karena sepertinya aku akan tetap menonton saja.

Seperti tren musik yang kini berganti dengan cepatnya. Bisa dibilang, kupingku ini dengan mudahnya dimanjakan. Namun sepertinya ia enggan untuk pindah kiblat.

Membuka playlist di telpon genggamku, pagi ini aku baru menyadari bahwa telingaku ini jadul. Mendengarkan lagu Jason Mraz berkali-kali. Bahkan aku lebih menyukai album Taylor Swift saat ia masih dibilang anak bawang.

Deretan band seperti Oasis, STEELHEART, Skid Row, Aerosmith, dan Mr. Big menjadi makanan sehari-hari telingaku. Namun sepertinya aku tak bisa dibilang menyukai lagu-lagu tua juga.

Jika ditanya "lo suka jenis musik apa?", rasanya aku tak pernah bisa menjawab dengan mudah. Biasanya sih menyebutkan nama si musisi menjadi jawaban pamungkas yang diikuti dengan anggukan si penanya.

Begitu juga dengan film. Aku bahkan tidak "ngoyo" untuk menonton Game of Thrones ketika sedang hype-hypenya karena kemarin memasuki season finale. Kucoba untuk menonton dua seasons pada 2013 atau 2014 silam. Aku sering dibuat tidur olehnya.

Maaf, ini hanya penilaian subyektif saja, ya. Tolong jangan judge saya.

Sampai pada suatu titik saya menyimpulkan bahwa diri ini menolak mengikuti pergerakan zaman. Ia hanya ingin singgah semuanya. Sesuka hati saja. Jika memang ada hal baru yang sesuai, aku tidak akan menolak. Namun jika hal itu tak membuat tertarik, aku pun sepertinya ogah melirik.

Sebut saja aku membosankan. Aku sepertinya akan mengangguk setuju. Mendengarkan lagu yang konstan setiap harinya mungkin bukan sebuah pilihan yang menarik. Apalagi  momen saat ada lagu yang menambat hati banyak orang, namun tak sedikitpun menyentuh hatiku. Yah.. namanya juga penilaian subyektif.

Kalau kamu sendiri, lebih suka mengikuti perkembangan atau sama sepertiku?

Comments

Popular Posts