Rindu Menulis
Di hari yang biasa, ingin rasanya kumembuat jari ini menari-nari di keyboard laptop hanya untuk menumpahkan isi hati. Seperti rasa rindu yang memuncak, aku ingin masa lalu kembali.
Bagi sebagian orang, mungkin hal yang dirasa menyenangkan adalah miliki uang cukup dan hidup enak. Lalu, bagaimana kalau aku mendefinisikan kenikmatan seperti itu dalam satu kata yang kontradiktif, mati.
Aku ingin hidup sembari menjamah tombol-tombol keyboard dan menuangkan isi kepala kapan saja. Menggunakan mata dan otak untuk merekam segala momen dan menyimpannya rapat-rapat dalam memori.
Memindahkannya dalam bentuk tulisan mungkin bisa menjadi nilai lebih. Aku hanya rindu. Rindu hari-hari biasa yang kujalani satu tahun lalu.
"Jalani saja. Jangan berhenti," ujar mantan bosku yang menjadi tempat sampah curhatku.
Dia percaya bahwa pengorbanan yang aku jalani saat ini akan berbuah manis pada akhirnya. Meski mungkin masih bakal ada rasa kecut, bukankah itu menjadi hal yang wajar saja dan malah menambah kenikmatan?
Bukannya aku tidak bahagia. Namun aku hanya rindu. Di sini aku memang menemukan sebuah dunia baru. Mengepakkan sayap lebih lebar lagi. Mengintip sisi lain dunia dari jendela yang lain. Meneguk air lewat sumber yang berbeda.
Ketika goyah, kuberanikan diri untuk bertanya pada diri "benarkah ini rindu? atau hanya ego yang tergores sekali lagi?" jawaban hatiku masih diam. Ia masih bergeming.
Kuputuskan untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Rasanya berat. Namun seperti apa yang ditorehkan Tan Malaka "Terbentur. Terbentur. Terbentuk."
Kini kuputuskan diriku untuk terbentur sekali lagi. Biarkan ini menjadi yang keseribu kali, seratus ribu kali, bahkan jutaan kali. Ingin kulihat hasil lelahku nanti di sore hari yang jingga.
Bagi sebagian orang, mungkin hal yang dirasa menyenangkan adalah miliki uang cukup dan hidup enak. Lalu, bagaimana kalau aku mendefinisikan kenikmatan seperti itu dalam satu kata yang kontradiktif, mati.
Aku ingin hidup sembari menjamah tombol-tombol keyboard dan menuangkan isi kepala kapan saja. Menggunakan mata dan otak untuk merekam segala momen dan menyimpannya rapat-rapat dalam memori.
Memindahkannya dalam bentuk tulisan mungkin bisa menjadi nilai lebih. Aku hanya rindu. Rindu hari-hari biasa yang kujalani satu tahun lalu.
"Jalani saja. Jangan berhenti," ujar mantan bosku yang menjadi tempat sampah curhatku.
Dia percaya bahwa pengorbanan yang aku jalani saat ini akan berbuah manis pada akhirnya. Meski mungkin masih bakal ada rasa kecut, bukankah itu menjadi hal yang wajar saja dan malah menambah kenikmatan?
Bukannya aku tidak bahagia. Namun aku hanya rindu. Di sini aku memang menemukan sebuah dunia baru. Mengepakkan sayap lebih lebar lagi. Mengintip sisi lain dunia dari jendela yang lain. Meneguk air lewat sumber yang berbeda.
Ketika goyah, kuberanikan diri untuk bertanya pada diri "benarkah ini rindu? atau hanya ego yang tergores sekali lagi?" jawaban hatiku masih diam. Ia masih bergeming.
Kuputuskan untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Rasanya berat. Namun seperti apa yang ditorehkan Tan Malaka "Terbentur. Terbentur. Terbentuk."
Kini kuputuskan diriku untuk terbentur sekali lagi. Biarkan ini menjadi yang keseribu kali, seratus ribu kali, bahkan jutaan kali. Ingin kulihat hasil lelahku nanti di sore hari yang jingga.
Comments
Post a Comment