Lebih Pilih Refleksi daripada Resolusi
Sebagian perasaan sudah aku curahkan dalam sebuah postingan di Instagram bahwa 2019 bukan tahun keberuntunganku. Rasanya beban malah makin terasa berat di pundak.
Di penghujung tahun kemarin aku lebih memilih merefleksikan 2019. Mengumpulkan keping demi keping ingatan yang membuat emosiku meledak. Entah sedih, bahagia, gamang, dan berdebar-debar, aku kembali merasakannya.
Setelahnya aku menyadari, memori 2019 lebih sering membuat hatiku nyeri. Ironi, air mataku tak tumpah di detik kejadian. Ia malah banjir di akhir tahun bersamaan dengan kota Jakarta.
Apakah aku memang sudah sekuat itu untuk menutupi sakit? Apakah tenagaku semeluap itu untuk berpura-pura bahagia? Lalu kenapa baru sekarang terasa nyeri?
Entahlah.
Yang pasti, mereka yang melukai memori hadir di detik yang sama membuatku marah. Aku tak bisa berbuat banyak. Pasalnya, mereka yang kusayangi justru yang membuat sakit hati terdalam.
Pernah kubaca sebuah kalimat entah di mana. "semakin dalam kamu jatuh cinta, maka akan sedalam itu pula sakitnya."
Tahun 2018 aku mulai kembali aktif menulis di blog ini. Namun, sepertinya aku banyak menuliskan kisah cengeng. Sadar betul aku jika terkadang suka mentransformasikan perasaan dalam tulisan dan menuliskan cerita yang berbeda namun sekiranya memiliki derita sama.
Di tahun 2020 aku tak banyak punya resolusi, hanya ingin banyak jalan-jalan dan lebih sayang diri sendiri. Aku kini lebih suka merefleksikan diri dan melihat sejauh mana aku tumbuh. Lebih kuat kah? Lebih sabar kah?
Aku pun ingin mengucap terima kasih pada diri sendiri karena sudah berjuang dan memilih untuk menjadi kuat. Yuk kita berjuang lagi tahun ini!
2 Januari 2020
Flori

Jangan lupa untuk menuliskan kebahagiaan juga.
ReplyDeleteHei, aku suka membagikan kebahagiaan di sini. Semoga kamu pun selalu dipeluk rasa bahagia ya!
ReplyDelete