Jangan Bertingkah Seperti Tuhan


Beberapa waktu yang lalu saya membuat keputusan mengejutkan. Bahkan seperti mabuk, rasanya bodoh sekali jika diingat. Namun sepertinya jauh dalam hati saya tahu bahwa ini tindakan tepat.

Mungkin ini seperti mendapatkan hidayah ketika kamu mantap berhijab. Atau saat tiba-tiba hati menjadi yakin untuk menjadikan sang kekasih sebagai teman hidup yang sah di mata agama dan juga hukum. Keputusan saya untuk meninggalkan kantor pun bulat. Detik itu. Saat itu.

Saya ingat, jari ini sedang menari di atas keyboard telpon genggam saat memutuskan untuk resign. Kala itu, ada kawan yang menemani makan malamku.

"Kalau besok gue resign gimana? Kayaknya gue harus resign dan harus besok. Gue mau Jumat menjadi hari terakhir," pertanyaan itu lepas saja terucap pada teman dan sukses membuatnya melotot di Rabu malam.

Saat itu ia menanyakan keseriusan dan menyatakan berbagai pertimbangan. Masih sama mantapnya, saya pun menjawab akan berhenti esok hari.

Rasa percaya diri saya berbanding lurus dengan kemantapan hati. Hal itu masih terus berjalan meski ada pertanyaan "kenapa gak tunggu sampai dapat kerja baru aja?". Bagi saya, sehari tinggal akan menjadi satu hari di neraka. Saya ingin pergi. Melepaskan belenggu yang tampaknya sudah lebih erat dari pertahanan.

Jumat malam. Saya menyempatkan berkumpul dengan rekan kerja. Usai bicara ngalor-ngidul seperti biasa, orang yang saya percaya pun membuka obrolan pribadi. Ia mengungkapkan keresahan dan saya pun. Di sana, sebuah ilham terucap dari bibirnya.

Dia adalah seorang Kristen yang taat. Sebagai seseorang yang tidak relijius, terkadang saya tak mengerti pola pikirnya. Namun kali ini ucapannya terasa teduh meski keyakinan kami berbeda.

"Sekarang ini, banyak manusia yang mengambil tugas Tuhan. Mereka merasa mampu melakukan semuanya. Dan lo tau nggak? Hal itu justru yang bikin manusia cepet stress."

Saya terdiam. Menunggu bait selanjutnya sembari menyedot susu putih dingin yang baru saja tiba.

"Lu boleh aja usaha semaksimal mungkin. Tapi jangan pernah mengambil alih tugas Tuhan. Usaha keras silakan tapi jangan lupa istirahat. Karena saat lo istirahat, di situ tangan Tuhan bekerja. Kalau lo kerja terus 24 jam, kapan kasih waktu Tuhan untuk bekerja? Nggak akan ada yang bisa mengerjakan tugas Tuhan. Yang ada capek doang, Flo!" lanjutnya.

Saya masih diam. Tertegun dengan kalimat yang harus diproses dengan sangat cermat. "Do the best and let God do the rest." istilah gaulnya. Di sini hati saya terketuk.

Sepertinya saya memang terlalu sombong. Merasa bisa mengerjakan semuanya untuk kemudian meremehkan takdir. Menyepelekan tangan Tuhan. Tak heran, saya bukanlah pribadi yang relijius.

Namun kalimat itu mengubah cara pandang saya. Ego saya harusnya lebih membumi. Saya sering bicara dengan Dia yang tentunya dengan cara saya. Banyak yang perlu saya ceritakan. Terkadang, saya hanya "mengobrol saja". Saya lupa, bahwa Dia bisa diandalkan. Bahwa hal yang harus saya lakukan hanyalah meminta.

Mantan saya pun seorang Katolik. Darinya saya belajar untuk tidak perlu meragukan kuasa Tuhan. Ia selalu mengingatkan sebuah ayat yang kini sudah saya hapal di luar kepala.

"Janganlah kamu kuatir akan hari esok karena hari esok punya kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." - maaf, saya tidak hafal surat dan ayatnya.

Kini, saya ingin menjadi pribadi yang lebih sabar. Tak perlu lagi memaksakan keinginan. Jalani dan coba melihat segalanya dari jarak yang lebih jauh. Mungkin yang saya butuhkan hanya jarak pandang lebih luas untuk mengetahui keinginan yang lebih detail. Kini, nyaman sudah hati ini. Terima kasih atas perbincangannya kala itu.

Flori
Jakarta, 12 September 2019

Comments

Popular Posts